Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts
Friday, March 23, 2012 0 comments

Ketulusan Cinta


Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahan terbesarku padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau pindah

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote.

Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” 

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


source: dari seorang sahabat :')
Saturday, July 10, 2010 4 comments

Perjalananku sebelum menemuiNya

Annisa, begitulah sapaanku sehari-hari. Aku adalah gadis belia yang berumur kurang beberapa bulan menuju 17 tahun. Begitu banyak pelajaran kehidupan yang telah aku dapati selama ini. Aku hidup dalam keluarga yang demokratis namun terkadang berubah haluan menjadi radikal dimana iya adalah iya dan tidak adalah tidak. Tidak boleh menentang. Ayah dan ibu adalah orang tua yang tegas dan sangat menyayangi anak-anaknya. Begitu pula dengan saudara perempuanku. Dia lah yang selama ini mendengarkan keluh kesahku dan senantiasa memberikan nasehat ketika aku terlena dengan pesona dunia. Diusiaku kini, aku mengecap pendidikan disalah satu sekolah yang dianggap sebagai sekolah unggulan. Unggul dari segi otoriter dan pengusa yang tak mengenal rakyat. Ironis memang, setelah dua tahun aku mengetahui unek-unek yang dipancarkan sekolah itu.

Di sana, aku diberikan kesempatan untuk mencicipi kelas yang juga notabenenya unggulan. Di kelas itu, aku bertemu dengan manusia-manusia yang mengajarkanku makna sebuah kedewasaan. Mengenal mereka membuatku dewasa sebelum waktunya. Aku lebih sering bermain dengan perasaan dan otak ketika bersenda gurau, jalan-jalan, belajar, dan lain sebagainya bersama mereka. Dari sanalah kehidupanku sedikit menunjukkan perubahan. Aku yang ketika SMP dikenal egois, kompor, kepala batu, mulut pisau, pelit, dan sifat brutal lainnya mendadak menjadi manusia yang melewati batas sifat melankolis sempurna.

Yaa..itulah sedikit petikan riwayat tentang hidupku. Kini saatnya ku mulai menuliskan setiap kata tentang tragedi yang membuat sebuah kepompong tidak akan pernah menjadi kupu-kupu yang indah. .

---

Kejadian itu berawal ketika aku hendak pulang sekolah. Sewaktu itu, aku memilih untuk menaiki angkutan umum. Ketika mobil tepat berada dipersimpangan jalan menuju rumah, aku menyetopnya dengan suara yang lumayan menyentakkan pak supir. Sewaktu akan turun, ntah apa yang terlintas di pikiranku tiba-tiba kepalaku terbentur hebat oleh pintu mobil. Benturan itu sempat membuatku tidak sadarkan diri beberapa saat sebelum sempat membayar ongkos. Di jalan menuju rumah, kepalaku berdenyut dengan irama kacau. Darah seperti mengetok-ngetok meninges untuk lari dari peredaran. Namun untunglah Allah tidak menghendaki terjadinya pendarahan saat itu. Ku relakan hari itu berlalu dengan mengistirahatkan otakku seharian.

Tragedi di angkot itu ku jadikan angin lalu. Tak perlu ada yang tau. Aku merasa itu hanyalah perkara spele. Siapa pun pasti pernah mengalami.

---

Beberapa bulan berikutnya, aku mengalami peristiwa yang sama. Terbentur pintu angkutan umum. Hatiku ingin sekali berteriak tentang apa yang kurasakan. Allah sepertI sedang menyadarkanku makna dari sebuah kesalahan yang aku sendiri tidak sadar telah melakukannya.

Saat itu juga ku kumandangakan istighfar berkali-kali. Aku yakin ini tidak akan terjadi selain dosa yang telah kuperbuat. Ya Allah,, ingatkanlah aku terhadap dosa yang menyebabkan aku terbentur lagi kali ini.

Air mataku tiba-tiba menetes tanpa kupaksakan. Seolah-olah hari itu adalah hari paling sial. Namun hal itu segera ditepis oleh otak kecilku yang masih menyimpan sebuah memori ketika kakak menasehati “Tidak ada hari yang sial. Semua hari itu sama. Istighfarlah. Hal yang menimpa dirimu tidak akan terjadi selain kamu melakukan sebuah kesalahan yang menyebabkan Allah mengujimu, sayang. Jangan pernah lagi mengatakan hari itu sial. Allah Yang Maha sempurna telah menciptakan hari sedemikian rupa supaya manusia bisa mengambil pelajaran”. Begitulah nasihat kakak yang menutup pikiranku rapat-rapat tehadap kesialan.

Tanpa pikir panjang, aku bergegas menuju rumah dan mengistirahatkan tubuhku sejenak sebelum adzan berkumandang.

---

Peristiwa itu lagi-lagi ku abaikan. Hari demi hari setelah kejadian itu berlalu, aku merasakan ada hal yang berubah. Ya..benar!! Ingatanku semakin lama semakin menunjukkan ketidakmampuannya menyimpan byte-byte memori. Awalnya aku merasa itu hal yang biasa karena faktor umur. Namun semakin berlalunya hari, aku semakin khawatir dengan kondisi kepalaku. Aku yang biasanya mampu belajar dua belas jam tanpa ada efek samping, kali ini selama enam jam saja sudah tak sangup. Aku merasa ada denyutan ganas yang bermain dengan otakku. Tiap sebentar, pusing pun ikut menggerogoti. Berat. Semakin berat. Namun aku bukanlah terserang penyakit hidrosefalus yang membuat kepalaku benar-benar berat dan sulit untuk diangkat.

Karena tidak tertahankan, aku berniat untuk memberitahukan hal itu pada ibu. Tapi, aku takut. Takut merepotkan beliau untuk ribuan kali. Kerjaanku hanya menyusahkan beliau. Hal itu segera kutepis. Terlintas di benakku untuk memberitahukan pada kakak atau ayah. Namun, jika kuberitahu, pastilah seisi rumah tidak ada yang melirik. Mereka pasti beranggapan ‘itu hanya sebuah benturan’. Memang benar itu benturan. Tapi apakah tidak berbahaya bila benturan itu sudah sering terulang? Aku hanya bisa mengusap dada menahan rahasia ini. Ya Allah,, jika ini adalah sebuah penyakit penawar dosa, bantulah aku untuk ikhlas ya Rabb.

Sebualan telah berlalu. Serpihan kejadian masih tertinggal dibenakku. Aku selalu berdoa agar hari-hari yang kulalui selalu dapat memberikan manfaat.

---

Tibalah pada suatu hari yang mengguncang perasaanku dengan hebat. Hari itu sepulang sekolah, feelingku merasakan hawa yang tidak mengenakkan. Aku bertanya kepada ibu apakah disekitar sini ada warga yang meninggal atau tertimpa musibah. Biasanya, perasaan seperti ini kerap kali timbul tatkala ada orang yang meninggal. Untuk itulah aku bertanya pada ibu. Namun ibu mengatakan tidak ada. Lantas, perasaan apa yang sedang bergelut dengan ku ini? Ya Allah, engkau yang Maha Tahu segala yang gaib, berilah hamba petunjuk atas perasaan yang tidak menentu ini.

Sungguh di luar perkiraan, saat itu juga sebuah benda asing dari atas lemari menimpaku yang sedang membuatkan kopi untuk ayah. Benda berbeban setengah kilo yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 50 sentimeter baru saja mendarat di kepalaku. Pekikan suara yang luar biasa keluar dari mulutku. Semua organ-organ pun ikut bersorak. Darah yang ada di otak, tidak segan-segan mengalir dengan derasnya. semua tenaga terkuras habis menahan rasa sakit yang begitu hebat. Seumur hidup tidak pernah kurasakan sakit yang demikian.

Segera ku selesaikan kopi untuk ayah dengan langkah terbata-bata. Sambil berjalan ke kamarku yang tidak jauh dari dapur, mataku menitikkan air mata kesakitan dengan tangan tetap menekan bagian kepala yang sakit.

Kakak yang melihatku bertanya, “kamu menangis?”. “iya”, jawabku singkat. “ceritakan pada kakak apa yang membuat menangis”. “hanya hal spele”. “tidak bolehkah kakak tahu awan apa yang menghujani pipimu?”, kakak bersikeras ingin tahu apa yang terjadi padaku. Aku pun tidak punya alasan untuk menolaknya, “nngg..nngg..benda dari atas lemari baru saja menimpaku, kak”. “oh adikku,,,peluklah aku”. Aku menangis sejadi-jadinya dan mengungkapkan semua perasaanku. “Kak, apakah hal itu bisa menyebabkan pendarahan? Apakah aku akan hilang ingatan? Apakah kemampuan inteligenku akan menurun? Apakah, aku akan kehilangan semuanya?” “Hussh....Jangan pertanyakan hal-hal negatif. Jadikan saja semuanya positif. Coba diingat apakah ada perbuatan dosa yang baru saja kamu lakukan?” “Kepalaku berdenyut untuk mengingatnya, kak. Ini sudah kesekian kalinya aku terbentur benda keras. Aku takut terjadi apa-apa dengan kepalaku. Belakangan ini daya ingatku sudah mulai menurun. Kepalaku sering menunjukkan respon kesakitan. Ketika aku ada masalah, kepalaku terasa berat untuk memikirkannya”. Kakak pun berusaha menenangkanku, “sudahlah. Tetap tenang dan berfikir positif. Sekarang lebih baik kamu istirahat. Bangunlah tengah malam. Sang pemilik Cinta akan menunggu keluh kesahmu”. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjawab, “ baiklah kak. Tapi tolong jangan ceritakan hal ini pada ibu dan ayah ya. Biarkan aku yang memberitahukan pada mereka”. “baiklah”

Percakapan antara aku dan kakak, membuatku sedikit lebih tenang. Kakak selalu membuatku bangkit ketika aku terjatuh. Aku sangat menyayanginya meskipun hatinya selalu tersakiti olehku.

Aku segera merebahkan tubuh di atas kasur. Menutup rapat mataku dengan harapan malam nanti bisa terbangun di pangkuan Illahi dan menceritakan semua apa yang kurasakan.

---

Tiga minggu berlalu. Aku benar-benar merasakan perubahan drastis yang ditunjukkan oleh sistem saraf pusatku. Daya ingat. Yaa... daya ingatku sekarang menjadi shortmemory. Aku sering lupa apa yang dipesankan oleh ibu padaku. Aku juga lupa apa yang telah diajarkan guruku, apa yang baru diceritakan teman padaku, bahkan aku lupa apa yang sudah aku lakukan. Ini sangat menyiksaku. Pekerjaanku sering berantakan sekarang. Belum lagi ketika harus mengikuti postest. Tapi, aku masih beruntung karena soal tahun ini berupa objektif. Jika soal ditawarkan dalam bentuk essay mungkin aku akan mati sebelum perang.

Tidak hanya itu, kepalaku juga sering sakit dan pusing. Saat menuliskan sesuatu, aku sering mengalami kesalahan. Otakku tidak sejalan dengan tangan yang digunakan untuk menulis. Ketika aku memikirkan sebuah huruf yang ingin ditulis, tanganku sering melakukan kesalahan dalam menuliskan hurufnya. Hal yang sama juga terjadi saat aku mengetik di komputer. Entah karena ada hurufnya yang tertinggal, kelebihan, ataupun tidak tertuliskan. Saat berbicara dan membaca Al-Quran pun juga demikian. Ketika aku memikirkan suatu hal untuk diucapkan, yang terucap justru kata-kata diluar yang aku pikirkan. Semuanya terasa aneh. Aku mulai sedikit khawatir. Sejak terbentur waktu itu, aku tidak merasakan kondisi tubuhku terkendali dengan normal.

Kali ini aku benar-benar berniat memberitahukan pada ibu keadaanku yang sesungguhnya. Aku tidak ingin menyimpan lebih lama lagi maslah ini. Sambil menyusun kalimat yang pas untuk diucapkan, segera ku temui ibu yang terlihat santai di ruang tengah. “ibu, akhir-akhir ini kepalaku sering sakit semenjak terbentur oleh benda asing dari atas lemari tempo lalu. Aku takut kalau terjadi apa-apa denganku, bu”. “ah kamu yang benar saja, nak. Mana mungkin karena terbentur kamu akan terkena kanker otak atau penyakit otak lainnya. Jangan berbicara seperti itu. Suatu saat perkataanmu akan menjadi pisau yang siap menusukmu”, ibu hanya menjawab santai. “aku serius, ibu. Bagaimana kalau kita periksa saja? Kalau perlu kita ke Luar Negeri untuk General Check Up”, tepisku mantap. “kamu pikir itu gampang. General check up bukan hal yang main-main, nak”. “aku tahu, bu. tapi apa yang harus dilakukan? Tiap sebentar aku merasakan hal yang aneh diotakku”. “tidak ada yang perlu dilakukan. Percayalah..kamu akan baik-baik saja. Mohon kepada Allah untuk senantiasa melindungimu dari marabahaya”. “tapi bu...tidakkah ibu khawatir dengan keadaanku?”. “sudahlah, nak. Lebih baik kamu istirahat. Bukankah besok kamu harus bangun lebih awal?”, ibu mencoba untuk tidak menganggap serius kalimat-kalimatku. “baiklah jika itu pendapat ibu”.

Hasil yang didapat dari percakapan itu sudah kuduga. Ibu menganggap spele apa yang aku rasakan. Melihat keadaan demikian, aku memutuskan untuk mengecek sendiri kondisi kesehatanku kepada dokter ahli saraf yang lumayan ku kenal.

Besoknya aku mengunjungi dokter tersebut dan menceritakan panjang lebar keluhan demi keluhan hingga akhirnya proses pemeriksaan pun berlangsung. Aku disuruh menunggu satu minggu untuk melihat hasil pemeriksaan yang bagiku seperti menungu rapor hitam. Sangat mengerikan.

---

Satu minggu ku lalui dengan tingkah laku yang aneh. Pertukaran hari rasanya menghilangkan satu kesempatanku untuk hidup. Tapi itu bukan berarti aku harus bermanja-manja dan memanfaatkan kondisiku untuk bersantai-santai ria.

Hari ini adalah hari yang menentukan. Apa pun hasilnya aku harus siap. Aku menyempatkan diri untuk berdoa sebelum kaki ini melangkah mengambil hasil tes yang ku anggap sebagai rapor hitam.

“Ya Allah, jika hasil tes nya positif, jangan biarkan sedikitpun ada rasa sombong dan ria dihati ini. Tapi yang ada hanyalah rasa syukur padaMu yang telah memberiku nikmat sehat yang tidak bisa aku ganti dengan apapun. Namun, jika hasil tesnya negatif, jangan biarkan sedikitpun ada rasa sedih dihati ini yang membuatku mengeluarkan air mata. Tapi yang ada hanyalah rasa ikhlas dan syukur padaMu karena engkau telah memberiku sakit sebagai jalan untuk semakin dekat kepadaMu”. Usai berdoa, ku mantapkan hati untuk menuju ke tempat itu.

Tiba di sana, keberuntungan segera menaungiku. Aku dapat giliran masuk duluan tanpa perlu mengantri terlebih dahulu. Perlahan-lahan kubuka pintu ruangan dokter. Dengan kaki gemetar dan badan panas dingin, ku raih kursi tepat di depan dokter itu duduk. “bagaimana hasilnya, dok?”. “hmm..saudari Annisa, anda tahukan bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah hanya kepadaNya. Dan tentulah semua ibadah itu akan dimintai pertanggungjawaban. Orang yang cerdas, adalah orang yang selalu mengingat kematian. Makanya, ia berusaha untuk memperbaiki setiap amal ibadahnya yang akan ia pertanggungjawabkan kelak karena ia tidak tahu kapan Sang Pemlik Nyawa akan memanggilnya”. “apa maksud anda, dok?”. “yaa..setiap orang pasti akan mati, bukan”. “iya. Tentu saja”, jawabku tegas. “namun tidak seorangpun yang tahu kapan ia akan mati”, jawaban sang dokter semakin membuatku bingung. “iya benar sekali. Lalu?”. “jika hasil tes ini membawa anda untuk segera menemui Allah, apakah anda siap?”. “sebenarnya, ibadah yang saya lakukan belum sempurna. Saya masih sering menyakiti hati orang lain, durhaka kepada orang yang sudah membesarkan dan mendidik saya, belum sepenuhnya menepati amanah, serta masih sering ghibah dan bid’ah tanpa saya sadari. Namun, jika hasil tes itu masih menyisakan sedikit waktu bagi saya untuk memperbaiki ibadah tersebut, kenapa tidak. Justru pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya yang sangat saya dambakan”. “baiklah kalau begitu. Sebelumnya saya minta maaf karena sebagai seorang dokter seharusnya saya bisa menyembuhkan pasiennya. Namun untuk kasus yang satu ini, memohonlah keajaiban dari Allah”. “apakah saya terkena penyakit yang mematikan, dok?”. “benar. Anda mengidap penyakit kanker otak”. “benarkah?”, tagasku memastikan. “iya. tapi tenanglah. Kuasa Illahi tidak ada yang bisa menduga. Jika kali ini saya bisa katakan umur anda tidak lama lagi, hal itu tidak ada yang bisa memastikan. Sejujurnya berat bagi saya untuk memberitahukan hal ini kenapa anda”. “tidak apa-apa, dok. Justru berita ini membuat saya semakin kuat. Yaaa saya tahu ini memang berat bagi saya. Tapi saya tidak akan menangisinya karena saya sudah meminta kepada Allah untuk diberikan kekuatan”. “subhanallah..luar biasa, nak. Anda sangat tegar sekali. Jarang ada pasien saya yang sekuat anda. Mungkin inilah yang disebut kekuatan doa dan ikhlas”. “ini semua tidak akan terjadi tanpa izinNya, dok. Hmmm....dok..” “iya, ada apa?” “apakah benturan itu ada hubugannya dengan penyakit saya ini?”. “hmm..sebenarnya tidak ada benturan yang membuat seseorang samapi terkena penyakit kanker otak. Menurul hasil pemeriksaan, anda telah lama mengidap penyakit kanker otak. Namun akibat benturan yang terlalu sering, mengakibatkan aktifitas kankernya semakin aktif karena terjadi goncangan hebat disekitar sel-sel kanker”. “lalu apakah keluhan-keluhan saya selama ini, merupakan bagian dari efek kanker tersebut?”. “ya. Tepat sekali. Anda akan bertemu dengan efek-efek lainnya setelah ini. Anda harus tetap tegar. Jadi perbanyaklah doa agar keajaiban itu benar-benar datang”. “InsyaAllah, dok. Terima kasih atas semua. Tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun ya, dok. Saya pamit dulu, assalamu’alaikum”. “wa’alaikumusalam”

Ntah hawa apa yang sedang bermain dengan hatiku. Ntah batyangan siapa yang sedang menari-nari dibenakku. Tapi itulah kenyataannya. Sebuah penyakit yang sama sekali belum pernah aku pelajari sedikitpun. Penyakit yang cepat atau lambat akan membunuhku. Penyakit yang siapa pun mengidapnya akan putus asa dengan sisa usia. Penyakit yang menghantu-hantui si penderita dengan efek yang ganas. Penyakit yang merobek semua tinta impian yang telah digoreskan dan yang paling penting penyakit yang mulai detik ini akan menjadi sahabatku.

---

Kehidupanku mulai berubah semenjak divonis. Aku mulai menata kembali setiap sikap yang pantas untuk diperlihatkan. Aku tidak ingin menorehkan luka di hati orang-orang yang kusayangi diakhir hidupku. Yaa... aku tahu cepat atau lambat aku akan segera pergi. Untuk itu aku berusaha untuk memberikan yang terbaik meski kondisi tubuhku tidak lagi sempurna. Aku akan mencoba untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun termasuk kakak yang sangat aku sayangi. Aku harus bisa. Tidak akan kubiarkan mereka menangisi dan selalu mengingatku ketika aku telah tiada. Masalah harapan ayah yang ingin melihatku menjadi seorang dokter, aku akan berusaha untuk meraihnya sampai dimana aku diberi kesempatan untuk hidup. Untuk teman dan sahabat-sahabatku, aku akan coba mematri kembali sifat dan tingkah laku baikku agar tidak menyakiti dan membuat kalian muak denganku. Aku sangat menyayangi kalian semua. Tapi aku tidak boleh cengeng dan menyerah. Walaupun penyakit ini merangkulku, jiwa dan ragaku akan mencari cara untuk berpegang pada impian.

---

Setahun setelah aku menerima hasil pemeriksaan itu, aku masih tetap beraktifitas layaknya orang normal meskipun kepalaku sering sakit, lemah, mati rasa pada lengan dan kaki, sedikit kesulitan dalam berjalan, perubahan abnormal pada penglihatan, kepribadian, ingatan, dan sedikit sulit dalam berbicara. Itu semua kulakukan agar tidak ada yang sadar bahwa aku sedang sakit. Sedih juga rasanya menyimpan berita ini sendiri. Setiap hari kulihat ayah yang semakin berharap padaku tentang impiannya. Kulihat ibu yang masih membutuhkan bantuan dan senantiasa mau menemaninya. Kulihat pula kakak yang tidak pernah berhenti memberiku nasihat untuk semakin dekat denganNya. Kulihat teman-teman yang selalu berusaha untuk kompak dan saling berbagi suka dan duka. Kulihat para tetangga yang tidak pernah absen menyapaku. Dan kulihat pula seorang laki-laki yang kuharap bisa menjadi imamku, berjuang untuk kesuksesannya. Ya Allah, hidupku benar-benar berubah sekarang. Jujur, aku sangat meridukan kedekatan bersama mereka, tertawa bersama, dan menikmati hidup dengan penuh semangat. Namun, apalah dayaku.

Duhai Sang Pemilik Cinta, izinkan aku untuk menjadi seseorang yang berarti bagi mereka. Aku ingin kepompong yang tidak akan pernah menjadi kupu-kupu yang cantik ini masih bisa tetap tersenyum hingga akhir hayatnya.

---

Hari ini rasanya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Entah mengapa usai sholat subuh, aku terlihat letih sekali. Badanku gemetaran karena kedinginan. Kepalaku semakin sakit. Nampaknya hari ini aku tidak bisa masuk sekolah. Aku segera menghubungi temanku melalui pesan singkat. Isinya tidak panjang. Hanya permohonan izin biasa karena aku sedang tidak enak badan dan tidak lupa kusampaikan permohonan maaf kepada seluruh teman-temanku. Selesai ku mengirim pesan singkat itu, ku temui ibu yang berada di dapur.

Di saat itu sempat terjadi perbincangan sederhana. “ibu, kenapa hari ini masaknya banyak sekali? Apakah keluarga besar kita ingin berkunjung?”. “tidak ada. Ini ibu buatkan khusus untukmu. Ibu tidak tahu kenapa rasanya ibu ingin sekali kamu mencoba masakan spesial dari ibu”. “benarkah? Waaahh...pasti enak, bu. Oia bu, hari ini aku tidak masuk sekolah karena aku kurang fit. Tapi ibu jangan khawatir”. “kamu sakit, nak?”. “ng..ng..cuma sakit biasa, bu”. “oh..ya sudah kalau begitu. Kamu istirahat saja dulu. Nanti kalau sudah masak, ibu beri tahu”. “baiklah, bu”.....

Sambil berjalan menuju kamar, tiba-tiba kakak memanggilku. “Annisa!!”. “iya. Ada apa kak?” “kakak ingin memberimu,,, eh tunggu dulu. Ada apa dengan wajahmu? Kenapa terlihat pucat sekali?” “ngg..ngg..tidak ada apa-apa kak. Mungkin karena kurang tidur. Makanya terlihat pucat”. “tapi pucatnya berbeda”. “tenang saja kak. Aku hanya sakit kepala”. “oohh begitu..kakak doakan semoga kamu cepat sembuh ya”. “makasih ya, kak. Aku ke kamar dulu ya”. “ya.baiklah”.....

Kepalaku semakin berat. Aku ingin menjerit sekuat tenaga namun takut orang rumah akan curiga. Yang bisa kulakukan hanyalah berdzikir dan berdoa di atas tempat tidur sambil berbaring.

Aku merasa tidak mungkin untuk banyak beraktifitas. Aku berusaha untuk memejamkan mata, namun sangatlah sulit. Aku tidak bisa tidur. Ada yang mengganjal di hati ini. Seperti merasakan sebuah akhir kehidupan. Paradigma itu segera kubuang jauh dari pikiranku. Aku mencoba bangkit dari tempat tidur. Melihat kondisi kamarku yang masih belum rapi, aku berniat untuk membersihkannya. Takut jika ada orang yang berkunjung nanti melihat kondisi kamar yang berantakkan. Selesai merapikan kamar, adzan ashar segera berkumandang. Aku kuatkan diri ini untuk bisa memenuhi panggilan Allah saat itu. Setelah menunaikan shalat, terbesit di hati ini untuk melihat pemandangan sore hari di luar rumah bersama teman-teman. Aku menghubungi mereka satu persatu untuk mau menemaniku. Syukurlah, mereka bisa menemaniku hari ini.

Aku memilih pantai sebagai tempat kesukaanku saat melihat pemandangan. Sesampainya di pantai yang letaknya tidak jauh dari rumah, aku dengan iseng bertanya, “teman, jika ini adalah hari terakhir kalian, apa yang akan kalian lakukan?”. “hmm..kalau aku akan memperbanyak amal ibadah. Soalnya, ibadahku masih kacau dan belum maksimal”. “kalau aku, akan memeluk erat orang yang aku sayang dan mati dipangkuannya”. “hmm..kalau aku tidak muluk-muluk. Paling hanya bisa pasrah pada takdir”. “kalau kamu sendiri?” “ngg...entahlah”. “kenapa?”. “aku tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi aku takut berpisah dengan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku. Namun di sisi lain justru aku sangat menginginkan kematianku dipercepat”. “benarkah? alasannya?”. “tidak panjang. Hanya saja, aku ingin segera bertemu dengan Sang Pemilik Cinta”. “subhanallah... luar biasa!! Aku saja belum sempat memikirkan sejauh itu”. “hmm..mungkin karena aku sudah tahu bahwa aku akan mati”. “mati? Maksudnya?”. “ngg...ngg...tidak. tidak ada apa-apa. Eh, sebentar lagi adzan maghrib. Kita pulang sekarang ya!”. “ya. Ide bagus”. “oh iya, terima kasih ya karena kalian telah bersedia menemaniku. Ini suatu kepuasan tersendiri bagiku. Aku minta maaf atas semua kesalahanku ya”. “ah..kamu ini bicara apa sih? Seperti baru mengenal kami. Tentu saja kami akan memaafkan kesalahanmu”. “terima kasih ya teman-teman”. “iya sama-sama. Yuk pulang!”

Aku dan teman-teman segera menuju rumah masing-masing. Aku yang berada tidak jauh dari lokasi, memilih untuk pulang berjalan kaki. Memang tidak gampang memilih berjalan kaki dengan kondisi yang tidak normal seperti ini. Tapi aku tetap paksakan walau organ-organ di tubuhku berteriak meminta jatah istirahat.

---

Sesampai di rumah, suara adzan maghrib berkumandang. Sesegera mungkin aku mengambil wudhu dan menunaikan sholat. Selepas sholat, ibu memanggilku untuk bergabung bersama ayah dan kakak mencicipi menu spesial yang dibuat ibu. Aku yang tidak bisa duduk tenang saat itu, memecah keheningan yang terjadi saat makan malam berlangsung. “waahh masakan ibu kali ini paling enak. Aku jadi ingin nambah”. “kamu bisa saja, nak”. “memang benar, bu. hmm..oia yah,, bolehkah aku bertanya?”. “tentu. Soal apa?” “hmm...yah, apa ayah masih menginginkan aku menjadi seorang dokter?”. “itu hanya impian ayah saja, nak. Jika kamu tidak ingin menjadi dokter, itu tidak masalah. Yang terpenting kamu bisa bahagia dengan pilihanmu”. “ayah yakin? Bukankah ayah yang selama ini memintaku untuk menjadi seorang dokter sesuai impian ayah?”. “kenapa tidak. Ayah sadar kamu bukan anak kecil ayah lagi. Sekarang kamu sudah dewasa. Ayah hanya bisa memberikan saran. Selebihnya itu terserah kamu. Kamu yang tahu minat dan bakatmu dimana”. “tapi yah,, jika aku tidak memilih apa-apa, apa ayah akan marah?”. “tidak ada alasan bagi ayah untuk marah. Keberhasilan datangnya dari kemauan bukan paksaan”. ”benarkah? terima kasih ya, yah. Aku bersyukur mempunyai orang tua seperti ayah dan ibu. Maafkan aku karena sering menyakiti ayah dan ibu”. “orang tua akan selalu memaafkan kesalahan anaknya”. “hmm..kak, aku juga minta maaf ya. Selama ini aku sering membuat kakak jengkel dan marah”. “waaahh...seperti lebaran saja ada acara maaf-maafan. Iya...tentu saja kakak maafkan, adikku.” Senyuman terindah ku torehkan saat itu. Aku ingin selalu dapat menikmati suasana bahagia seperti itu. Walau aku tahu itu sangatlah tidak mungkin.

---

Saat sedang bersenda gurau dengan keluarga, tib-tiba kepalaku menunjukkan respon negatif. Sakitnya semakin menjadi-jadi. Aku putuskan untuk istirahat lebih awal. Namun, sebelumnya ku sempatkan untuk menunaikan shalat isya.

Sakit kepala ini benar-benar membuatku ingin pingsan. Sebelum istirahat, aku menitipkan pesan kepada kakak. “kak, nampaknya aku butuh istirahat yang cukup lama. Aku tidur lebih awal ya, kak. Tolong bangunkan aku jam 3 nanti malam”. “iya. Baiklah. Jangan lupa berdzikir dulu sebelum tidur” “iya..hmm..kak,,,”. “ada apa?”. “bolehkah aku memelukmu sebelum aku tidur?”. “tentu saja. Hmm..hari ini kamu terlihat aneh ya. Kamu baik-baik saja kan?”. “hanya kelihatannya saja, kak. Tidak usah dipikirkan. Aku istirahat dulu ya”. “ya sudah. Ayo istirahat sana”.

Pelukan hangat dari kakak, telah mewakili seluruh perasaanku hari ini. Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia meski berada dibawah penyakit yang mematikan. Ntah sampai kapan aku diberi kesempatan untuk bisa bernafas. Yang terpenting dari semuanya, aku harus mempersiapkan amalan yang akan aku pertanggungjawabkan sebelum kematian itu benar-benar datang. Aku tidak boleh lalai dan bermain-main lagi. Karena kematian itu adalah gaib. Tidak ada yang tahu kapan dia akan menemui ku. Bisa jadi lusa ataupun detik ini.

Sampai disini ceritaku untuk hari ini. Jika esok aku masih terbangun, aku akan menuliskan setiap kegiatan yang kulakukan untuk menjadi kenang-kenangan hingga batas kepergianku . . .


-THE END-

created by : *annisanicedream

 
;