1.Ketika aku melihatmu
2.mempersiapkan sejuta rencana untuk membuatku
3.tersandung oleh batu kecil,
4.batinku sakit dan dadaku penuh sesak.
5.Aku ingin segera membantu-
6.mu bangun dari sifat burukmu yang membuatku muak.
7.dan membuatmu bangkit
8.untuk tidak menyayatku karena pengalaman buruk
9.dari lukamu. Seberapa pun
10.kau berusaha meminta maaf dan menghilangkan
11.kecilnya rasa cintamu kepadaku, aku
12.tetap tidak akan memaafkan, walau aku pernah berjanji
13.akan selalu ada untuk menjaga-
14.mu. Aku tidak akan peduli
15.dan memperhatinkanmu. Karena aku
16.telah sangat menyesal untuk
17.yakin bahwa kau adalah orang spesial
18.yang pantas hidup bersamaku,
19.yang dikirimkan Tuhan untuk
20.membuatku selalu tersenyum dan mampu
21.mewarnai hidupku. Mulai sekarang, tidak akan kubiarkan
22.kau menyentuh duniaku lagi meski
23.air matamu jatuh dan batinmu terluka sia-sia
24.akibat selalu mengemis maaf dariku.
25.Karena nyawa akan kupertaruhkan
26.untuk mampu melupakanmu selamanya. Semua ini kulakukan
27.hanya untukmu, sahabat yang
28.munafik dan sahabat yang dulu
29.sangat kucintai karena-Nya.
Nb: sejujurnya, saya tidak bermaksud menjadi tokoh jahat seperti yang dikisahkan diatas. Karena sesungguhnya yang saya maksud adalah tokoh yang selalu berusaha untuk menjaga sahabat yang dicintainya. Silahkan, para pembaca membaca ulang barisan syair yang diberi nomor dengan ‘angka ganjil’.. *selamat membaca..
Gemuruh langit membawaku berfikir
Jauh lebih dalam ke masa silam
Sesosok wajah yang pernah menemani jiwaku
Ketika tak satu pun nyawa bersedia menjenguk
Kini menjelma dalam ingatanku
Dalam lukisan cerita
Ada aku dan dia sedang bersanding
Tapi itu bukan kisah roman
Yang memilih bersanding di pelaminan
Itu hanyalah sebuah tempat yang tak begitu istimewa
Lama-lama aku memandang
Teringat sebuah kisah unik
Seperti opera dalam pentas emas
Yang bertabur tepuk tangan di mana -mana
Di saat itu siang dan malam melebur
Tak terlihat batasan yang jelas
Aku dan dia selalu bersama meski tak bersua
Hanya untaian kata yang menjadi pengikat
Obat kesendirian saat tak ada lagi hiburan
Oh...kali ini aku bermain dengan dilema
Bertarung melawan perasaan
Yang seharusnya tak boleh hadir
Ke tengah-tengan podium yang telah ku rancang
Aku terjaga di tengah malam
Yang dingin dan merinding
Sudah terjadwal di malam yang sunyi
Mataku tak boleh merapat agi
Kali ini justru aku terdiam di tengah siang
Yang gersang dan menyengat
Di luar prediksi, aku harus tersesat
Lupa kalau harus mencari pintu keluar
Sudah terlambat untuk melompat
Jembatan runtuh turun kejurang
Aku butuh oksigen untuk pulang
Sebelum kuburku benar-benar digelar
Bantu..bantu aku
Belikan sekantong udara kehidupan
Biar mahal pasti kubayar
Walau tidak dengan nilai
dengan nyawa akan kuperhitungkan
Cepatlah..aku butuh oksigen,,detik ini
Suara di depan papan tulis
Menghardik semua mata untuk melihat
Angka-angka ganjil tertata rapi
Di atas papan putih yang berlumuran tinta hitam
Jumlah besar dan kecil sempat ditawarkan
Bagi yang tak berdaya, hanya bisa mengelus
Bagi yang perkasa, pastilah senyum-senyum
Saat melirik angka keramat kesenian
Baru berjumpa sudah ditakut-takuti
Bagi yang brutal, bersiap-siap mati
Senapan meluncurkan peluru maut tiap hari
Bagi yang diam, hidup telah di tangan
Tinggal menunggu hidangan spesial dengan aman
Memang angka keramat saat kesenian
Jam dinding berdiri manis
Menunjukkan pukul tiga tepat
Saat detik-detik menari dengan irama klasik
Di depanku puluhan kaki mengantri
Berebut satu kursi dalam konser istemewa
Aku yang duduk manis
Tertawa cengir sambil melirik
Seorang wanita berumur, penuh jiwa pejuang
Melontarkan kata-kata heroik
Semua yang berdiri membeku menatap
Semakin lama semakin penuh dan sesak
Satu jam yang aneh
Menit-menit yang tersusun rapi jadi kacau
Perhitunganku, semuanya salah
Seharusnya sudah ada bunyi kendaraan memanggil
Tapi semakin dinanti, semakin tidak ada
Aku jadi cemas
Suara wanita berumur itu, sudahy makin melemah
Lama-lama redup seperti lilin yang dihembus angin
Kenapa jam itu belum juga membaik?
Kemana bunyi-bunyi yang ditunggu?
Oh..satu jam yang aneh